Saturday, December 14, 2019

PENGERTIAN 6S (SEIRI, SEITON, SEISO, SEIKETSU, SHITSUKE, SAFETY)

Konsep 6S merupakan perkembangan dari konsep 5S, yaitu suatu metode yang digunakan untuk menata tempat kerja dengan tujuan untuk mendukung produktivitas dalam bekerja. 5S berasal dari kata Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke. Pada beberapa perusahaan di Indonesia 5S lebih dikenal dengan istilah 5R yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin.
5S merupakan budaya kerja yang berasal dari Jepang yang menginginkan keteraturan dalam bekerja. 5S menjadi bagian dari kaizen atau continous improvement (perbaikan berkelanjutan) yang bertujuan untuk memperbaiki lingkungan kerja agar menjadi lebih kondusif dan tertata.
(baca juga : seputar ilmu teknik industri)
Konsep 6S sedikit berbeda dengan 5S. Pada konsep 6S, adalah kelanjutan dari 5S yang terdapat tambahan 1 kata yang merupakan singkatan dari "safety" atau keselamatan. Jadi, 6S merupakan susunan dari seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke, dan safety. Dapat disimpulkan bahwa 6S = 5S + 1S (safety).
Berikut ini adalah penjelasan mengenai 6S secara lebih mendetail.
1. Seiri (Sortir)
Seiri yaitu memisahkan barang yang dibutuhkan dengan barang yang tidak dibutuhkan. Barang yang dibutuhkan akan disimpan, sedangkan barang yang tidak dibutuhkan akan disingkirkan.
2. Seiton (Susun)
Seiton yaitu menyusun dan meletakkan barang-barang yang dibutuhkan supaya mudah ditemukan saat dicari.
3. Seiso (Sapu) Seiso yaitu membersihkan area kerja beserta barang-barang yang telah tersusun rapi dari berbagai debu dan kotoran
4. Seiketsu (Standarisasi)
Seiketsu yaitu membuat prosedur (standarisasi) tentang aturan bagaimana cara untuk melakukan Seiri, Seiton, Seiso, kemudian menginformasikan ke semua pihak yang bersangkutan.
5. Shitsuke (Swadisiplin) Shitsuke yaitu membiasakan diri dalam menerapkan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu secara berurutan dan terus menerus.
6. Safety (Selamat)
Safety yaitu menghindarkan diri dari segala macam resiko yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja dan berbahaya bagi keselamatan pekerja.
(baca juga : pengertian lean manufacturing)
#CONTOH PENERAPAN 6S PADA AREA SEWING / JAHIT (PABRIK GARMENT)
Berikut ini adalah contoh penerapan 6S pada proses sewing (jahit) jika seandainya ditemukan barang - barang yang berserakan di atas mesin jahit.
Terdapat beberapa barang sebagai berikut : kapur tulis, meteran, kawat, gunting, benang, jarum, obeng, staples, tisu bekas.
1. Seiri (sortir)
Pisahkan barang yang dibutuhkan dengan barang yang tidak dibutuhkan untuk proses menjahit.
Barang yang dibutuhkan untuk proses menjahit adalah kapur tulis, meteran, benang, gunting dan jarum.
Sedangkan barang yang tidak dibutuhkan dalam proses menjahit adalah kawat, obeng, staples, dan tisu bekas.
2. Seiton (susun)
Rapikan dan letakkan barang-barang yang dibutuhkan seperti : kapur tulis, meteran, benang, gunting dan jarum pada tempat yang mudah untuk ditemukan dan dijangkau, misalkan :
Laci atas = jarum, benang
Laci tengah = kapur tulis, meteran
Laci bawah = gunting
Kemudian berikan identitas pada tiap laci meja sesuai dengan nama barang yang ditempatinya.
(baca juga : pengalaman bekerja di pabrik jepang)
3. Seiso (sapu)
Bersihkan area meja dan barang-barang yang telah di susun rapi dari berbagai debu dan kotoran.
4. Seiketsu (standarisasi)
Buatlah prosedur semisal Operational Standard (OS) tentang tata cara dalam penanganan peralatan jahit, kemudian informasikan prosedur tersebut ke semua operator, dan lakukan audit untuk mengecek aktivitas 5S yang sudah dijalankan.
5. Shitsuke (swadisiplin)
Budayakan untuk selalu membiasakan diri untuk disiplin dalam menjaga 4S (seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke) secara berurutan.
6. Safety (selamat)
Hindarkan diri dari segala macam resiko yang dapat mengancam keselamatan kerja, misalnya ketika melakukan jahit obras harus menggunakan masker agar partikel kain yang rontok tidak terhirup yang dapat mengganggu organ pernapasan manusia. Kemudian, ketika melakukan setrika baju gunakanlah sarung tangan agar dapat menghindarkan tangan dari terkena setrika yang panas.

Sunday, October 13, 2019

PROJECT MANAGEMENT (MANAJEMEN PROYEK)

Project Management atau manajemen proyek merupakan seni manajemen yang digunakan untuk mengelola suatu proyek, atau sebuah metode pengelolaan yang dikembangkan secara ilmiah dan intensif sejak pertengahan abad ke-20 untuk menghadapi kegiatan yang khususnya berbentuk proyek.
Project Management bertujuan agar suatu kegiatan proyek dapat tercapai secara efisien dan efektif. Dikatakan efektif bilamana hasil penggunaan sumber daya dan kegiatan sesuai dengan sasarannya yang meliputi kualitas, biaya, waktu dan lainnya. Sedangkan dikatakan efisien bilamana penggunaan sumber daya dan pemilihan sub kegiatan secara tepat yang meliputi jumlah, jenis, saat penggunaan sumber lain dan lain-lain.
Oleh karena itu manajemen proyek pada sebuah proyek konstruksi merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Tanpa manajemen yang baik dan tepat, pengelolaan proyek konstruksi akan sulit berjalan sesuai dengan harapan, baik berupa biaya, waktu maupun kualitas.
(baca juga : pengertian six sigma perbaikan kualitas)
Tahapan – tahapan dalam manajemen proyek
1. Perencanaan (planning)
Merupakan peramalan atau prediksi di masa yang akan datang, serta perumusan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan berdasarkan peramalan tersebut. Bentuk dari perencanaan dapat berupa: perencanaan prosedur, perencanaan metode kerja, perencanaan standar pengukuran hasil, perencanaan anggaran biaya, perencanaan program (rencana kegiatan beserta jadwal).
2. Pengaturan (organizing)
Bertujuan agar dalam melakukan pengaturan dan pengelompokan kegiatan proyek konstruksi, kinerja yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Tahap ini menjadi sangat penting karena jika terjadi ketidaktepatan pengaturan dan pengelompokan kegiatan, bisa berakibat langsung terhadap tujuan proyek.
3. Pengendalian (controlling)
Merupakan proses penetapan apa yang telah dicapai, evaluasi kerja, dan langkah perbaikan bila diperlukan.
(baca juga : pengertian kaizen dan dampaknya terhadap quality, cost, delivery)
Jenis - jenis proyek :
1. Proyek Engineering Kontruksi
Kegiatan yang dilakukan dalam proyek ini adalah pengkajian kelayakan, desain engineering, pengadaan dan konstruksi.
2. Proyek engineering Manufacture
Kegiatan proyek ini meliputi seluruh kegiatan yang bersifat untuk menghasilkan produk baru.
(baca juga : dasar perancangan produk)
3. Proyek Pelayanan Manajemen
Aktivitas utama dalam proyek ini adalah merancang system informasi manajemen, merancang program efisiensi dan penghematan, diversifikasi, penggabungan dan pengambilalihan, memberikan bantuan emergency untuk daerah yang terkena musibah, merancang strategi untuk mengurangi kriminalitas dan penggunaan obat-obat terlarang dan lain-lain.
4. Proyek Penelitian dan Pengembangan
Aktivitas utama yang dilakukan dalam pelaksanaan proyek ini meliputi melakukan penelitian dan pengembangan suatu produk tertentu.
5. Proyek Kapital
Secara umum, kegiatan yang dilakukan dalam proyek ini biasanya digunakan oleh sebuah badan usaha atau pemerintah, misalnya pembebasan tanah, penyiapan lahan dan pembelian material.

Saturday, October 12, 2019

STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE (SOP)

Standard Operational Procedure (SOP) merupakan sebuah dokumen yang berisi tentang prosedur kerja yang harus dilakukan secara berurutan dan sistematis dalam menyelesaikan suatu pekerjaan agar memperoleh hasil kerja efektif.
Istilah SOP dalam sektor industri sudah tidak asing lagi. Standar Operasional Prosedur menjadi sebuah pedoman dalam bekerja, agar operator atau karyawan dapat bekerja sesuai yang diharapkan oleh perusahaan.
(baca juga : cara menghitung kebutuhan tenaga kerja, output produksi dan waktu kerja)
SOP mencegah pekerja untuk melakukan kesalahan dalam bekerja, sehingga dapat menghindarkan masalah yang dapat merugikan perusahaan ataupun pekerja. SOP bertujuan untuk menghindarkan pekerjaan dari masalah - masalah seperti keselamatan kerja (K3), kualitas produk dan kuantitas produk.
Fungsi SOP
Berikut ini adalah beberapa fungsi dari SOP:
1. Membantu untuk memudahkan pekerjaan para pegawai atau tim/ unit kerja
2. SOP sebagai dasar hukum yang kuat bila terjadi penyimpangan
3. SOP memberikan pengetahuan mengenai hambatan-hambatan yang akan dan sedang dialami oleh pegawai
4. SOP dapat memberikan arahan kepada para pegawai agar saling menjaga kedisiplinan dalam bekerja
5. Berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan kerja atau tugas
6. Membantu pegawai baru lebih cepat beradaptasi dengan pekerjaannya.
7. Membantu pekerjaan dapat diselesaikan dengan konsisten
(baca juga : pengertian motion study dan time study)
Prinsip - Prinsip SOP
Dalam menerapkan Standar Operasional Prosedur dalam perusahaan maka perlu untuk memenuhi prinsip-prinsip SOP berikut ini:
1. Konsistensi
SOP harus dibuat dan dilaksanakan secara konsisten dari waktu ke waktu dan oleh siapapun dengan kondisi apapun.
2. Komitmen
SOP harus dipenuhi dan dilaksanakan dengan penuh komitmen, baik untuk pegawai maupun jajaran petinggi perusahaan.
3. Perbaikan Berkelanjutan
SOP tidak bersifat kaku dimana dalam pelaksanaannya SOP harus terbuka dengan perubahan untuk membentuk prosedur yang lebih efektif dan efisien.
4. Mengikat
Meskipun SOP bersifat dinamis terhadap perubahan, namun dalam praktiknya, SOP bersifat mengikat bagi siapapun. Pekerjaan atau tugas harus diselesaikan sesuai dengan prosedur yang sudah tertulis dalam SOP.
6. Terdokumentasi
Setiap prosedur yang tercantum di dalam SOP hendaknya dilakukan dokumentasi dengan baik sehingga dapat dijadikan referensi bagi anggota lain yang membutuhkan.
(baca juga : toyota ways)
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Saturday, October 5, 2019

PENGERTIAN MANAJEMEN DAN SEJARAH MANAJEMEN

1. Pengertian Manajemen
Manajemen merupakan seni untuk menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Hal ini dapat diartikan bahwa seorang manajer bertugas untuk mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.
Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berkaitan dengan pencapaian tujuan yang dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sedangkan efisien berarti bahwa tugas yang ada telah dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal atau rencana awal.
(baca juga : seputar teknik industri)
2. Sejarah Manajemen
Sebelum abad ke-20, telah terjadi dua peristiwa penting dalam ilmu manajemen. Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1776, ketika Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi klasik, The Wealth of Nation. Dalam buku tersebut, dikemukakan tentang keunggulan ekonomis yang akan diperoleh organisasi dari pembagian kerja (division of labor), yaitu perincian pekerjaan ke dalam tugas-tugas yang spesifik dan berulang.
Dengan menggunakan industri pabrik peniti sebagai contoh, Smith mengatakan bahwa dengan sepuluh orang—masing-masing melakukan pekerjaan khusus—perusahaan peniti dapat menghasilkan kurang lebih 48.000 peniti dalam sehari. Namun, bila setiap orang bekerja sendiri menyelesaikan tiap-tiap bagian pekerjaan, sudah sangat hebat bila mereka mampu menghasilkan dua puluh peniti sehari.
(baca juga : toyota ways)
Smith menyimpulkan bahwa pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas dengan cara :
(1) meningkatnya keterampilan dan kecekatan tiap-tiap pekerja
(2) menghemat waktu yang terbuang dalam pergantian tugas
(3) menciptakan mesin dan penemuan lain yang dapat menghemat tenaga kerja.
Peristiwa penting kedua yang berpengaruh terhadap perkembangan ilmu manajemen yaitu Revolusi Industri di Inggris. Revolusi Industri menandai dimulainya penggunaan mesin, menggantikan tenaga manusia, yang berakibat pada pindahnya aktifitas produksi dari rumah menuju tempat yang khusus yang disebut dengan "pabrik." Perpindahan ini mengakibatkan manajer-manajer ketika itu membutuhkan teori yang dapat membantu mereka meramalkan permintaan, memastikan cukupnya persediaan bahan baku, memberikan tugas kepada bawahan, mengarahkan kegiatan sehari-hari, dan lain-lain. sehingga ilmu manajamen mulai dikembangkan oleh para ahli.
(baca juga : lean manufacturing)
Era Ilmiah
Frederick Winslow Taylor dalam bukunya, Principles of Scientific Management, pada tahun 1911. Taylor mendeskripsikan manajemen ilmiah sebagai "penggunaan metode ilmiah untuk menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan." Perkembangan manajemen ilmiah juga didorong oleh munculnya pemikiran baru dari Henry Gantt dan keluarga Gilberth.
Henry Gantt pernah bekerja bersama Taylor di Midvale Steel Company, telah menggagas ide bahwa seorang mandor harus mampu memberikan pendidikan kepada karyawannya untuk bersifat rajin (industrious) dan kooperatif. Ia juga beehasil mendesain sebuah grafik untuk membantu kontrol manajemen yang disebut sebagai Gantt chart yang berfungsi untuk merancang dan mengontrol pekerjaan. Frederick Winslow Taylor adalah tokoh penemu time study, sedangkan Gilberth adalah tokoh penemu motion study. Kedua penemuan tersebut menjadi cikal bakal lahirnya keilmuwan teknik industri.
(baca juga : time study & motion study)
Sementara itu, pasangan suami-istri Frank dan Lillian Gilbreth telah berhasil menciptakan micromotion, yaitu sebuah alat yang dapat mencatat setiap gerakan yang dilakukan oleh pekerja beserta lamanya waktu yang dihabiskan untuk melakukan setiap gerakan tersebut. Alat tersebut digunakan untuk menciptakan sistem produksi yang lebih efisien.
Pada era ini juga telah ditandai dengan hadirnya teori administratif, yaitu tentang teori mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh para manajer dan bagaimana cara membentuk praktik manajemen yang baik. Pada awal abad ke-20, seorang industriawan Perancis bernama Henri Fayol mengajukan gagasan lima fungsi utama dalam manajemen, antara lain : merancang, mengorganisasi, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang.
(baca juga : kaizen)
Era Modern
Pada era manajemen modern ditandai dengan hadirnya konsep manajemen kualitas total (total quality management—TQM) pada abad ke-20 yang diperkenalkan oleh beberapa guru manajemen, yang paling terkenal di antaranya W. Edwards Deming (1900–1993) and Joseph Juran (lahir 1904). Deming, seorang berkebangsaan Amerika, dianggap sebagai Bapak Kontrol Kualitas di Jepang. Deming berpendapat bahwa kebanyakan permasalahan dalam kualitas bukan berasal dari kesalahan pekerja, melainkan disebabkan karena kesalahan sistemnya.
3. Fungsi Manajemen
Fungsi manajemen dibagi menjadi 3 bagian, yaitu perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan.
1. Perencanaan (planning)
Merupakan aktifitas dalam memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan.
2. Pengorganisasian (organizing)
Merupakan aktifitas untuk membagi - bagi kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan pada tingkatan mana keputusan harus diambil.
(baca juga : pengertian manajemen proyek)
3. Pengarahan (directing)
Merupakan suatu tindakan untuk mengupayakan agar semua anggota kelompok dapat berusaha dalam mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha.
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Wednesday, October 2, 2019

MOTION STUDY AND TIME STUDY (STUDI GERAK DAN WAKTU)

Pengertian Motion Study Dan Time Study
Motion study (studi gerakan) dan time study (studi waktu) merupakan suatu studi tentang gerakan-gerakan yang dilakukan oleh pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya berdasarkan perhitungan waktu. Studi ini diharapkan dapat diperoleh gerakan-gerakan standard untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, dengan gerakan - gerakan yang efektif dan efisien.
Kedua bidang studi tersebut pertama kali ditemukan oleh Frederick Taylor untuk time study dan Gilbreths untuk motion study yang ditujukan untuk meningkatkan kinerja di perusahaannya. Meskipun ditemukan dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, namun pada awalnya hanya time study dan penurunan insentif upah buruh yang lebih berkembang dibandingkan dengan motion study.
Seiring berjalannya waktu, keinginan untuk mendapatkan metode kerja yang lebih baik datang pada tahun 1930-an yang kemudian memunculkan perkembangan keilmuan teknik industri dengan tujuan untuk mengkombinasikan time study dengan motion study agar dapat menghasilkan metode kerja yang lebih baik dan ideal.
(baca juga : pengertian takt time)
Time study merupakan salah satu metode dalam praktek lean manufacturing dengan tujuan untuk mengidentifikasi opportunity perbaikan yang kemudian akan dijadikan standar dalam pelaksanaan pekerjaan dalam suatu proses.
Time study penting untuk diterapkan di area kerja. Hal ini disebabkan karena dengan melakukan time study, aktivitas produksi akan mudah untuk diprediksi. Pelaksanaan time study pada umumnya dilakukan oleh para engineer dari perusahaan tersebut khususnya dari industrial engineering, karena hal ini merupakan salah satu tugas pokok dalam membantu meningkatkan produktivitas kerja.
Alat - Alat Yang Bisa Digunakan Untuk Melakukan Time Study
1. Stop watch
Alat ini digunakan untuk menghitung waktu dari elemen-elemen dari proses yang ditentukan dan dipraktekkan oleh karyawan terlatih. Stop watch bisa dikategorikan menjadi dua yaitu Electronic stop watch dan Mechanical stop watch.
2. Sistem pencatat data
Adalah suatu alat atau software yang terinstal dan dapat merekam data yang didapat yang nantinya akan dijadikan kode tersendiri sebagai standar kode elemen-elemen proses.
3. Alat perekam video
Alat ini berfungsi untuk merekam setiap elemen-elemen dari proses yang sedang dilakukan oleh pekerja terlatih dan alat ini bisa berupa video camera. Fungsi alat ini yaitu agar dapat memudahkan peneliti time study dalam melihat kembali proses yang sedang berlangsung dan juga membantu mengidentifikasi jika ada elemen yang terlewatkan.
(baca juga : 7 jenis pemborosan dalam lean manufacturing)  
Perlengkapan Yang Harus Dibawa Untuk Melakukan Time Study
1. Pensil atau bolpen sebagai alat pencatat.
2. Kalkulator sebagai alat untuk menghitung waktu yang telah tercatat.
3. Form time study, form ini digunakan sebagai media untuk mencatat waktu, jarak, frekuensi dan sebagainya dari elemen-elemen kerja.
4. Alat pengukur, alat ini digunakan untuk menghitung jarak, kecepatan dan sebagainya.

Monday, September 23, 2019

KONSEP 5W1H

5W1H merupakan sebuah konsep rumusan pertanyaan yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah. Metode ini tidak hanya digunakan sebagai penelitian pada dunia akademik atau pendidikan, namun juga digunakan pada dunia non-akademik, contohnya adalah seperti dalam dunia bisnis.
Sebenarnya 5W1H adalah konsep yang cukup sederhana, namun memiliki fungsi yang sangat luar biasa dalam pnyelesaian suatu masalah.
Dalam pengambilan sebuah keputusan, terkadang suatu organisasi harus dapat menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan tujuan (goal) dan manfaat yang dapat diambil bersama. Sehingga metode 5W+1H bisa menjadi alternatif untuk solusi tersebut.
(baca juga : 7 alat kendali mutu / seventools)
Apa itu metode 5W+1H? yaitu sebuah metode yang digunakan untuk mencari solusi terbaik dengan cara menjawab atas pertanyaan-pertanyaan seperti wartawan yang sedang meliput berita.
Metode ini bisa digunakan bersamaan dalam penanganan masalah sedang yang terjadi di lingkungan manajemen perusahaan, seperti masalah buruknya kualitas produk dan hasil produksi yang tidak sesuai dengan harapan. Dengan membentuk tim Gugus Kendali Mutu (GKM),5W1H bisa diterapkan sebagai alat untuk mendukung improvement (perbaikan) ke arah yang lebih baik dengan cara membuatkan daftar pertanyaan. Sehingga cita - cita perusahaan yang mengaplikasikan Total Quality Management (TQM) bisa terlaksana dengan baik.
Penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut :
1. What
What dalam bahasa inggris berarti apa, maksudnya adalah apa yang menjadi permasalahan dalam organisasi? Kata ''apa'' di sini bisa diangkat menjadi tema permasalahan yang sedang terjadi di perusahaan.
2. Why
Why berarti Mengapa. Artinya mengapa masalah itu bisa terjadi, sehingga mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, atau alasan yang kuat agar tercapai tujuan yang diinginkan.
3. Where
Where berarti dimana. Artinya adalah dimana tempat yang menjadi penyebab timbulnya masalah? dengan mempertimbangkan analisa yang baik seperti penentuan tempat atau area terjadinya suatu masalah, diharapkan dapat mendukung penyelesaian yang baik
4. When
When berarti kapan. Kapan pekerjaan akan dimulai atau kapan pekerjaan akan diselesaikan. Waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin dalam upaya untuk menyelesaikan masalah.
5. Who
Who berarti siapa. Siapa yang akan dipilih untuk melakukan suatu pekerjaan, atau siapa yang diberi tanggung jawab untuk menangani maslah tersebut. Penanggung jawab di sini harus disertai dengan alasan yang kuat pada saat memilih orang yang akan melakukan pekerjaan dengan memerhatikan “the right man on the right place”
6. How
How berarti bagaimana. Bagaimana cara yang digunakan oleh perusahaan atau organisasi dalam rangka menangani dan menyelesaikan permasalahan. Pendelegasian tugas merupakan hal yang penting untuk menjawab pertanyaan ini.
(baca juga : seputar teknik industri)
Dengan menggunakan metode 5W +1H, diharapkan tujuan dari sebuah perusahaan akan lebih terarah dan tepat sasaran, sehingga aktifitas pekerjaan akan lebih terorganisasi, memudahkan dalam melakukan evaluasi. Metode 5W+1H dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melaksanakan setiap kegiatan.

Sunday, September 22, 2019

MANAJEMEN RISIKO (RISK MANAGEMENT)

Pada artikel kali ini saya akan mencoba membahas tentang apa itu risiko dan apa itu manajemen risiko.
Pengertian Risiko
Kata ‘’risiko’’ dapat diartikan sebagai akibat yang kurang menyenangkan (merugikan atau membahayakan) dari suatu tindakan.
Pengertian Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah suatu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisis, menilai, mengendalikan, sebagai upaya dalam menghindari, meminimalisir, atau bahkan menghapus risiko yang mungkin akan terjadi.
Manajemen Risiko dimulai dari proses identifikasi risiko, penilaian risiko, mitigasi, monitoring dan evaluasi risiko.
(baca juga : Total Quality Management)
Macam - Macam Risiko
Risiko dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu risiko spekulatif dan risiko murni.
1. Risiko spekulatif
Merupakan suatu keadaan yang dihadapi oleh perusahaan yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat memberikan kerugian. Risiko spekulatif dikenal juga dengan istilah risiko bisnis (business risk). Seseorang yang menginvestasikan dananya disuatu tempat akan menghadapi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama yaitu investasinya menguntungkan atau justru investasinya merugikan.
2. Risiko murni (pure risk)
Merupakan suatu risiko yang hanya dapat berakibat merugikan atau tidak mungkin menguntungkan. Salah satu contohnya adalah kebakaran. Jika perusahaan menderita kebakaran, maka perusahaan tersebut akan menderita kerugian dan tidak mungkin mengalami keuntungan
(baca juga : Total Productive Maintenance)
Tujuan Manajemen Risiko
Tujuan adanya risk management dalam suatu perusahaan, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Melindungi Perusahaan
Manajemen risiko dapat memberikan perlindungan terhadap perusahaan dari tingkat risiko signifikan yang bisa menghambat proses pencapaian tujuan dari didirikannya perusahaan.
2. Sebagai peringatan untuk waspada dan berhati-Hati
Manajemen risiko dapat mendorong semua individu dalam perusahaan agar bertindak hati-hati dalam menghadapi risiko perusahaan demi tercapainya tujuan bersama.
3. Meningkatkan Kinerja Perusahaan
Manajemen risiko dapat membantu meningkatkan kinerja perusahaan dengan menyediakan informasi tingkat risiko yang disebutkan dalam peta risiko/ risk map.
(baca juga : Pengertian dan tugas PPIC)
Jenis - Jenis Manajemen Risiko
Manajemen risiko terbagi dalam beberapa kategori, di antaranya adalah Risiko Operasional, Risiko Hazard, Risiko Finansial, Risiko Strategik.
1. Manajemen Risiko Operasional
Manajemen risiko operasional berkaitan dengan resiko yang timbul akibat kegagalan fungsi proses internal, misalnya karena human error, kesalahan sistem, dan sebagainya.
Dengan menganalisa manajemen risiko ini, perusahaan diharapkan mampu mengambil langkah preventif atau bahkan sanksi agar kapasitas produksi tetap terjaga jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
2. Manajemen Hazard
Manajemen hazard berkaitan dengan kondisi potensial yang mengakibatkan kebangkrutan atau kerusakan. Dalam hal ini terdapat tiga jenis hazard yang harus diketahui, antara lain legal hazard, physical hazard dan moral hazard.
Contoh dari hazard legal adalah pelanggaran peraturan bisnis yang bisa menyebabkan kebangkrutan, seperti pelanggaran SOP atau peraturan perusahaan yang berakibat fatal. Sementara physical hazard bisa berupa mesin yang sudah tua dan dapat menimbulkan resiko kerugian saat produksi (misal berdampak cacat produk atau mesin berhenti beroperasi karena rusak).
Moral hazard contohnya adalah sikap seorang karyawan dilingkungan kerja yang bisa menimbulkan kerugian. Misalnya karyawan tidak jujur dan sering korupsi uang. Atau karyawan yang tidak melayani konsumen dengan baik sehingga berakibat buruk pada perusahaan.
3. Manajemen Risiko Finansial
Manajemen resiko finansial adalah upaya untuk pengawasan resiko dan perlindungan hak milik, keuntungan, harta dan aset sebuah badan usaha. Seorang akuntan harus benar-benar mampu dalam mempertimbangkan berbagai macam resiko yang berhubungan dengan keuangan, seperti:
Risiko likuiditas
Diskpntinuitas pasar
Risiko kredit
Risiko regulasi
Risiko pajak
Risiko akuntansi
Jenis manajemen risiko finansial tidak lepas dari perubahan kurs mata uang yang erat kaitannya dengan inflasi, neraca perdagangan, kapasitas utang, suku bunga dan sebagainya.
(baca juga : lean manufacturing)
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, semoga artikel ini bisa bermanfaat