Setiap perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur pasti menginginkan output produksi selalu maksimal jumlahnya. Dengan maksimalnya output produk yang dihasilkan, maka akan semakin memperoleh keuntungan. Oleh karena itu, agar hasil output produksi bisa maksimal, maka pada proses produksi tersebut harus lancar dan tidak boleh berhenti. Jika terpaksa berhenti, maka diharapkan hal itu adalah bagian dari preventive maintenance untuk mendukung produktivitas produksi, bukan berhenti karena ada suatu masalah.
Jika proses produksi berhenti atau macet karena suatu masalah, hal itu bisa dikatakan sebagai bottleneck. Bottleneck adalah tidak lancarnya proses produksi karena terjadi kelebihan beban kerja pada suatu stasiun kerja dalam satu line produksi. Bottleneck apabila dibiarkan secara terus menerus akan menimbulkan waiting time atau waktu menunggu yang merupakan salah satu pemborosan dalam lean manufacturing, atau yang disebut sebagai 7 waste. Hal ini berakibat pada berkurangnya output produksi, sehingga perlu dilakukan perbaikan pada stasiun kerja yang mengalami bottleneck tersebut agar output produksi menjadi maksimal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar